Cerita lucah melayu -

Jakarta saat itu temaram mendung. Hari itu adalah hari kedua aku bersama
teman-teman mengikuti pelatihan manajemen. Salah satu instruktur manajemen
ternyata Idham Prawira mantan pacarku yang telah putus hubungan 7 tahun lalu.
Aku terpaksa meninggalkan dia karena dia lebih suka main bola katimbang bekerja
formal atau mengurus bisnis ayahnya. Padahal bekal pendidikannya mencukupi
sebagai lulusan LN. Statusku sekarang manajer PR di perusahaan minyak luar Jawa
dan bersuami dengan satu anak. Sejak putus aku tidak pernah berhubungan dengan
Idham agar bisa memendam kenangan, terutama di Yogya ketika aku telah
menyerahkan keperawananku untuknya.
Sekarang giliran Idham yang memberikan presentasi. Pada saat membagi bahan
presentasi, dengan lihai tangan Idam menyelipkan kartu nama dan dibaliknya
tertulis “hubungi aku”. Selama dalam kelas, Idham tidak menunjukkan bahwa ia
mengenalku. Selesai pelatihan seluruh peserta kembali ke kamar hotel. Begitu
juga Idham telah menyelinap entah kemana. Padahal saat itu aku kepingin menemui
barang sejenak.
Sampai di kamar aku melamun sambil memegang kartu nama Idham. Lamunanku
terpotong oleh suara dering telepon. Sambil tiduran aku mengangkat gagang
telepon. Terdengar suara Idham “Rin, ini aku…. aku kepingin ketemu… aku di kamar
sebelah. Kalau kamu membuka pintu penghubung, aku bisa ke kamarmu. Kita bisa
ngobrol… aku kangen banget Rin….”. Aku terdiam dan tidak menjawab. Dengan
perasaan gundah telepon itu terlepas dari tanganku. Ketika aku angkat kembali,
suara Idham tidak kedengaran.
Dari pintu penghubung terdengar suara pintu sebelah kiri dibuka perlahan dari
sisi sebelah. Ada suara ketukan halus serta panggilan namaku. Jantungku berdetak
kencang. Suara itu yang memberikan kerinduan dalam hidupku. Dengan perlahan
grendel pintu penghubung aku buka. Begitu pintu terbuka, Idham langsung
memelukku erat sekali dan mukanya dibenamkan dalam dadaku. Ia tidak berkata
apapun. Aku elus kepalanya dan kemudian Idham mendongakkan mukanya. “Rin….. aku
kangen…”. Kemudian Idham menggeretku dan merebahkan di tempat tidur. Kerinduanku
padanya berkobar kembali seperti ketika masih bersama. Bibirnya melumat bibirku….
kemudian pindah ke leher dan terus ke telinga, turun ke dadaku… “Ssstttt…… ohh……”
aku masih hapal urutan tubuhku yang bakal menjadi sasarannya. Dia akan betah
lama mempermainkan buah dada dan putingku, mengusap-usap, meremas, mengenyot dan
mempermainkan ujung hidung dan kumisnya di puting susu.
Satu persatu bajuku luar dalam lepas dari badan. Idham sangat paham kemana dia
harus merangsang bagian berikutnya. Sebelum mulutnya sampai di perut, dia akan
membalikkan badanku dan mengendus punggung dan pantat. Setelah aku semakin
kelojotan, dia akan membalikkan badanku dan memulai menciumi ujung jari kaki
kemudian naik betis dan paha. Sampai disitu aku biasanya sudah tidak tahan dan
kalau dulu penisnya langsung aku tarik untuk dimasukkan ke liang senggama. Tapi
aku ingin menikmati lebih lama, aku buka pahaku dan dia mencari dengan lidahnya
mengusap bibir luar. Hidungnya ia gosokkan diantara belahan vagina. Aku hapal
apa yang selanjutnya akan dia lakukan. Setelah puas, bibirnya mulai menyusup
diantara lipatan lobang vagina untuk mencari sepotong daging kecil yang
menggelembung. “Aaauuuuhhhh………. ” aku menjerit kecil. Dia akan bermain-main
dengan ujung lidahnya dan sesekali mulutnya menghisap dan memelintir.
Cukup lama aku tidak merasakan permainan seperti ini. Suamiku tidak pernah
mengoral bagian yang sensitif di rongga vaginaku. Paling suamiku hanya
memasukkan ujung jari saja. “ooohh ……..sstttt…….aahhhhhhh……. ke atas sedikit
say…aangg…”. Bila gerakan lidahnya kurang pas, aku langsung meminta ke arah mana
lidah diarahkan. Permainan berikutnya adalah menggosokkan ujung penis Idham
untuk membasahi. Slepp…… dan “aaauuu…..hhhhhh”. Mulailah gerakan perlahan
menarik dan menyodok diselingi gerakan memutar. Aku semakin hanyut dalam
kenikmatan. “haaahhh….. ssttt….sssstttt…. ooohhhhhsssssstttt……..” semakin lama
gerakan Idham semakin cepat. Aku semakin tidak tahan. “teruuussss…..ssstttt
oooohhh…. terus…. terus…. terus.. haahhhhhhhhhh………” kontraksi dalam vaginaku
meloloskan semua kenikmatan. Aku telah mengakhiri tapi Idham masih meyodok maju
mundur. Ketika tangannya mengangkat pantatku, itu pertanda Idham segera mencapai
puncak. Tiba-tiba dia berteriak, penisnya disodokkan lebih dalam dan dipepetkan
sampai pangkal. “Auahhh.aaaaa………..”. Crot….. crot ….. crot…..denyut penis
menumpahkan air mani menyiram vaginaku.
Aku ketiduran lemas tanpa daya. Idham tiduran miring sambil mengelus-elus buah
dadaku. Hidungnya menciumi lenganku. Masa-masa pemulihan dari puncak kenikmatan
ke kondisi normal selalu dilakukan Idham dengan usapan dan ciuman lembut
menambah kenikmatanku.
Tiba-tiba telepon di kamarku berdering. Aku melompat dan menyeberang ke kamar
sebelah. Telepon dari stafku memberitahu aku ditunggu makan malam. Aku belum
mandi, aku tidak siap makan dengan mereka. Akirnya aku katakan aku ketiduran
jadi tidak siap makan dengan mereka saat ini. Aku persilakan mereka makan lebih
dahulu biar aku pesan di kamar saja.
Badanku aku jatuhkan ke tempat tidur, lemas rasanya dan aku menarik selimut.
Rasanya tidur akan terasa nikmat. Belum sampai pulas Idham ikut menyusup dalam
selimut. Aku acuhkan dia karena aku ingin lelap. Antara sadar dengan tidak,
Idham kembali menciumi tubuhku. Ketika ia membuka pahaku dan memasukkan penisnya,
aku mulai terlelap tidur. Entah apa yang telah dia lakukan. Tengah malam aku
terbangun dan terasa di pahaku ada cairan yang mengalir. Setelah ingatanku pulih
kembali, aku masuk kamar mandi dan berendah air panas. Tubuhku hangat dan
kembali aku menemukan gairah sex. Aku bangkit dari tempat berendam menuju kamar
Idham. Dia masih terlelap tidur dengan nafas teratur halus.
Aku menyusup ke dalam selimutnya dan tanganku mencari kemudian mengusap-usap
penisnya yang lagi bangun dalam tidur. Aku kenyot penisnya sampai-sampai Idham
terbangun. Pelukannya menyambut tubuhku yang masih telanjang. Akhirnya kami
berguling membentuk 69 tapi tidak sampai klimax. Setelah puas saling mengoral,
aku diajak mandi berendam. Tubuh kami yang terkena air hangat menjadi segar dan
lebih sesitif pada rangsangan. Akhirnya kami mulai lagi dengan gaya yang dia
sukai, aku melayaninya dengan cara berdiri bersandar dinding. Kaki kiriku dia
angkat dengan tangan kanan dan Idham memasukkan penisnya ke dalam vaginaku.
“Aaahhhh….. aaahhhh……. ahhhhh…” kenikmatan mulai menjalar ke ubun-ubun. Aku
semakin memuncak “ter……uuuusss……sssttttt …. terus…s..s..s..s” dan kontraksi
berupa denyutan panjang menyebabkan aku lemas. Idham masih bersemangat. Tapi
tubuhku sudah lemas. Akhirnya aku pindah ke tempat tidur. Aku menungging dan
Idham dari belakang memompa vaginaku.
Kenangan manis dengan pacar lama aku tinggalkan. Pesawat terakhir telah
membawaku kembali ke kota dimana aku berumah tangga. Nun disana suamiku dan
anakku melambaikan tangan menjemput di bandara. Bayangan Idham selama dalam
penerbangan tiba-tiba hilang. Aku berlari dan aku peluk anakku serta aku ciumi
suamiku.
Pingback: Sexawek